Tag

, , ,

TEMPO Interaktif, Edisi 11/03 – 16/Mei/1998
Kesaksian Desmond J. Mahesa:
“Hanya Allah yang Menjamin Saya”

Kasus penculikan terhadap para aktivis seakan tiba di titik balik. Setelah Pius Lustrilanang memberikan kesaksian yang mengejutkan, kini Desmond J. Mahesa, Ketua LBH Nusantara, yang diciduk orang tak dikenal awal Februari lalu, ikut bersaksi.

——————————————————————————–

Selasa 12 Mei 1998, di Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia, di hadapan puluhan wartawan dalam dan luar negeri, pria asal Banjarmasin itu secara panjang lebar menuturkan kisah sedihnya selama peculikan. Ia ditendang-tendang, dibenamkan ke dalam air, disetrum badan dan kepalanya, hingga bintik-bintik merah pun sempat berkeliaran di badannya. Kesaksian yang dihadiri oleh Munir dari YLBHI, Ikadin Banjarmasin dan Albert Hasibuan dari Komnas HAM ini berlangsung hampir 2 jam. Berikut ini penuturan Desmond.

DJM beri testimoni

“Tanggal 3 Februari 1998, kantor saya di Jl. Cililitan, didatangi sekitar delapan orang tidak dikenal. Mereka datang mencari saya. Kebetulan pada saat itu saya sedang berada di rumah teman di daerah Jakarta Selatan.

 

Besoknya, tanggal 4 Februari saya datang ke kantor itu pada pukul 08.00 WIB. Teman-teman saya memberitahukan bahwa saya dicari oleh intel. Saya sebetulnya sangat terkejut, tetapi kepada mereka saya beritahukan bahwa itu mungkin bukan intel. Mungkin saja orang-orang itu adalah teman-teman kita juga. Saya katakan itu karena kantor kami di Jl. Cililitan itu kerap disinggahi oleh teman-teman dari KNPD dan beberapa organisasi lainnya. Terus pada hari itu saya berada di kantor hingga pukul 14.30 WIB. Sore harinya saya harus menghadiri acara di Forum Kebangsaan Indonesia. Direncanakan dalam forum itu akan ditandatangani penolakan kami terhadap pencalonan Soeharto, sebagai presiden yang ketujuh kalinya.

Pukul 14.40 WIB, saya keluar kantor dan terus dari Cililitan menumpang Mikrolet 06 menuju Kampung Melayu. Dari terminal Kampung Melayu itu kemudian saya numpang mikrolet 01 yang menuju terminal Pasar Senen. Saya turun di Salemba, dekat Lembaga Alkitab Indonesia. Persis antara Lembaga Alkitab dan kantor GMKI di Salemba 10, saya dihadang oleh dua orang yang membawa pistol FN. Mereka menodongkan pistolnya dan memaksa saya untuk masuk ke dalam mobil Vitara yang berwarna abu-abu.

Salah seorang di antara mereka itu berbadan tinggi, kekar dan berambut keriting. Sedangkan yang satunya lagi berambut lurus tetapi berbadan hitam. Sebetulnya saya dapat mengenal mereka secara fisik, tetapi kacamata saya jatuh di luar mobil . Jadi, mata saya yang minusnya sekitar 6, praktis tak dapat melihat apa-apa. Apalagi mata yang tidak mampu melihat ini, masih diikat lagi dengan kain hitam. Dunia rasanya gelap sekali. Di dalam mobil itu saya dijepit kuat oleh dua orang berbadan kekar tadi. Saya tidak tahu persis ke arah mana mobil itu berjalan, karena mereka putar keras-keras musiknya. Tetapi sekitar 45 hingga 50 menit kami berhenti di sebuah tempat.

Di tempat itu saya diturunkan secara kasar. Tangan saya diborgol ke belakang dan mata saya pun masih terus ditutup dengan kain hitam. Saya dibawa ke sebuah ruangan dan terus dinterogasi selama tiga jam.

Dalam interogasi ini mereka menanyakan apakah saya kenal dengan tokoh-tokoh seperti Megawati dan Amien Rais. Saya jawab bahwa sejak saya melihat foto-foto Pak Harto, saya menjadi kenal dengan beliau, tetapi belum tentu dia kenal saya. Demikian pun halnya dengan Megawati dan sebagainya itu. Saya mengenal mereka tetapi belum tentu mereka mengenal saya. Dijawab begitu mereka diam saja. Mereka juga menanyakan alasan penolakan kami terhadap pencalonan kembali Presiden Soeharto. Saya menjawab apa adanya.

Sepanjang interogasi ini, kaki, tangan, badan dan kepala saya terus disetrum dengan listrik. Terkadang badan dan kepala ditendang atau dicelupkan ke dalam bak air. Kendati saya menjerit kesakitan, mereka terus melakukan penyiksaan ini, hingga dari badan saya kemudian keluar bintik-bintik darah dan badan saya terus menggigil. Dalam keadaan mengigil ini pun mereka terus menendang badan dan kepala saya. Saya pikir, mampuslah saya.

Selepas interogasi ini, sekitar pukul 20.00 WIB saya dimasukan ke dalam sebuah ruangan yang agak menurun. Ruangan itu ber AC, berukuran 2×2,5 meter per segi. Lantai ruangan ini berkeramik merah. Di dalam ruangan itu tersedia kasur, dengan sarung bantal, sprei dan ada dua selimut bergaris-garis, seperti selimut di rumah sakit. Di pojok kamar itu ada bak mandi yang dinding-dindingnya berkeramik putih. Saya juga diberi celana pendek satu buah. Di depan kamar ada kamera dan di pintu masuk ruangan ada radio yang selalu diputar keras-keras. Terkadang gelombangnya berganti antara Mustang, Pelita Kasih dan Radio Kiss. Dan itu tergantung permintaan kita kepada mereka yang lewat di depan ruangan. Dari sebuah radio itu saya pernah mendengar Adnan Buyung Nasution berkomentar tentang hak asasi di Indonesia. Dari dalam kamar itu juga saya pernah mendengar bunyi terompet antara pukul 11.30 hingga 12.00 WIB. Raung pesawat pun kerap saya dengar.

Beberapa hari kemudian akhirnya saya tahu bahwa saya tidak sendirian di tempat itu. Di kamar lainnya meringkuk saudara Yani Avri yang biasa dipanggil Ryian Sony dan Pius Lustrilanang, yang semuanya saya kenal. Kemudian ditambah lagi dengan saudara Haryanto Taslam. Formasi kamar pun kerap diubah. Awalnya saya nginap di kamar no 3, terus pindah ke no. 4 dan terus pindah lagi. Saya juga dikasih makan siang dan malam. Orang yang membawa makan ini, kepalanya selalu ditutup dan hanya matanya saja yang kelihatan. Penyiksaan hanya dilakukan hari pertama tadi. Sedangkan hari-hari selanjutnya, saya hanya disuruh mencatat nama-nama orang tua saya dan teman-teman saya. Karena takut, saya memberitahukan semuanya.

Hingga pada tanggal 1 April 1998, saya ditawari beberapa skenario pelepasan. Skenario pertama, saya bisa dilepas dengan catatan saya harus datang ke YLBHI lalu menceriterakan bahwa selama ini saya hanya menyembunyikan diri. Skenario kedua, saya bisa bebas asalkan saya menetap di Garut.

Saat itu saya lebih menyetujui alternatif kedua, asal tempat menetap tidak di Garut tetapi di Irian Jaya. Mereka menanyakan alasan saya memilih Irian Jaya ini. Saya katakan bahwa saya ini seorang pengacara dan kebetulan saya punya klien di Irian Jaya itu. Mereka kemudian setuju dengan usul saya ini, asal sebelum ke Irian Jaya, saya harus ke Banjarmasin dulu.

Tanggal 3 April 1998, saya diantar ke sebuah tempat dengan mata tertutup. Tiba-tiba mereka menurunkan saya. Mereka memberikan tiket pesawat Garuda. Tetapi selama proses pemberian tiket ini, saya tidak boleh melihat mereka. Setelah mata dibuka, saya harus jalan menuju bandara tanpa menoleh. Untung saja saya diturunkan dekat bandara udara. Sebelum mereka memberikan tiket pesawat, mereka mengharuskan saya untuk melapor kepada polisi setempat, setibanya di Banjarmasin. Mereka juga memberikan saya nomer Pager mereka, 13011 ID 1092111, dan saya harus melaporkan kepada mereka di mana saya berada. Janjinya, saya harus menghubungi nomer pager itu tanggal 1 Mei yang lalu.

Semua skenario mereka ini saya lakukan. Sewaktu saya melaporkan ke Polisi di Banjarmasin, saya dituduh oleh polisi setempat mencari popularitas. Karena menurut mereka nama Desmond J. Mahesa lagi dicari banyak orang. Kepada para polisi itu kemudian saya tunjukkan kartu identitas saya. Saya berpesan, agar memberikan alamat saya, bila ada orang yang mencari Desmond J. Mahesa.

Sebetulnya, saya sudah mulai tenang tinggal di Banjarmasin. Karena di samping selalu bersama orang tua, saya juga bisa bertemu lagi dengan teman-teman lama saya. Tetapi tiba-tiba ada orang berpakaian seragam hijau datang ke tetangga saya. Mereka menanyakan banyak hal tentang saya. Yang kedua, paman saya yang bekerja di kantor statistik Banjarmasin, juga didatangi oleh orang yang berpakaian sama. Dan terus orang-orang yang sama juga pernah mendatangi teman-teman yang sering bersama saya. Pertanyaan mereka umumnya sama saja, apa kegiatan saya dan apa yang saya ceriterakan kepada tetangga, paman dan teman-teman saya itu. Saya betul-betul merasa terganggu dan keamanan saya mulai terancam lagi.

Karena perasaan cemas tadi, saya kemudian memutuskan untuk datang saja ke Jakarta dan memberikan kesaksian saya kepada masyarakat. Di samping itu saya juga berharap, agar kesaksian saya ini dapat memperkuat kesaksian Pius Lustrilanang yang banyak diragukan oleh pihak berwenang. Saya memberikan kesaksian ini dalam rasa takut, karena saya diancam bakal dihabisi atau dibunuh kalau bicara.. Dalam ketakutan ini pun saya ingin menegaskan bahwa Pius, bersama teman-teman lainnya, benar-benar diculik oleh orang yang punya organisasi yang rapi.

Saya tidak akan ke luar negeri, kendati sekarang saya merasa benar-benar takut setelah memberikan kesaksian ini. Saya sangat mengharapkan jaminan dari masyarakat luas. Kalau sewaktu-waktu melihat saya digebuk orang, tolong bantu saya atau minimal memberikan kesaksian bahwa saya mati karena dianiaya orang. Bagi saya jaminan terbesar datang dari Allah sendiri. Karena itu saya mengatakan ini dalam rangka amar makruf nahi munkar.

Sumber: http://www.tempo.co.id/ang/min/03/11/nas6.htm

Iklan