Tag

,

MERDEKA.com, Selasa, 30 April 2013 07:58
Aktivis korban penculikan dan Sindrom ‘politis’ Stockholm
Reporter : Laurencius Simanjuntak |

Merdeka.com – Moncong senjata itu siap menyalak jika empat karyawan Sveriges Kreditbank di Gedung Norrmalmstorg melawan. Para sandera perampokan bank di Stockholm, Swedia, pada 23 Agustus 1973, itu tak henti-henti gemetar. Mereka sangat ketakutan.

“Mari kita mulai ‘pesta’ ini,” seru Jan-Erik ‘Janne’ Olsson, sang bandit, yang kemudian meminta polisi mendatangkan temannya Clark Olofsson, yang ada di penjara untuk membantu perampokan.

Bersama teman banditnya itu, Olsson memainkan drama penyanderaan, sampai akhirnya ‘pesta’ itu dihentikan pada hari ke-6 atau 131 jam setelahnya. Dua garong itu ditangkap, sementara satu sandera laki-laki dan tiga perempuan itu selamat.

Dua bandit itu dijatuhi hukuman. Olsson dipenjara 10 tahun, sementara Olofsson harus melanjutkan hidup di balik jeruji dengan perpanjangan hukuman.

Meski terbukti melakukan kejahatan, kedua bandit itu justru mendapat simpati dari para mantan sanderanya. Mereka bahkan menolak bersaksi untuk memberatkan hukuman dua perampok itu.

Olofsson bahkan kemudian berhubungan baik dengan Kristin Enmark, salah satu sandera, dan keluarganya. Tak ketinggalan, Olosson juga banyak menerima surat dari para sandera yang mengagumi aksinya. Cerita punya cerita, salah satu sandera wanita bahkan memutuskan pertunangan dengan kekasihnya, dan memilih bertunangan dengan Olosson.

Para sandera mengakui, dalam enam hari penyanderaan mereka justru lebih takut dengan polisi yang mengepung Gedung Norrmalmstorg ketimbang aksi para bandit. Para psikolog menilai simpati para mantan sandera kepada pelaku dikarenakan mereka tidak mengalami penganiayaan berarti, sementara aksi penyelamatan polisi sangat brutal dan justru mengancam keselamatan mereka. Oleh kriminolog Nils Bajerot, efek psikologis ini dinamai Stockholm Syndrome atau Sindrom Stockholm.

Sekilas cerita di atas sama dengan kisah para aktivis korban penculikan 1998 yang kini berhubungan baik dengan orang yang paling bertanggungjawab atas peristiwa itu. Seperti diketahui, beberapa aktivis bergabung dan mencalonkan diri sebagai caleg dari Partai Gerindra, pimpinan Prabowo Subianto, mantan Danjen Kopassus yang dicopot dari dinas militer karena terlibat kasus penculikan.

Adalah Aan Rusdianto yang menambah daftar para aktivis korban penculikan yang masuk ke Gerindra, setelah Haryanto Taslam, Pius Lustrilanang dan Desmond J Mahesa. Aan, mantan aktivis Partai Rakyat Demokratik (PRD), nyaleg di Daerah Pemilihan Jawa Tengah IX dengan nomor urut 2.

Berbeda dengan penyanderaan Stockholm di mana semua korban selamat, dalam penculikan 1998, masih ada 13 aktivis rekan Aan yang masih hilang sampai detik ini. Aan pun bukannya tidak dianiaya seperti karyawan Sveriges Kreditbank.

“Dua hari dua malam itu adalah waktu penuh ketegangan dan siksaan,” kata Aan lewat testimoni tertulisnya yang dimuat Info Pembebasan, media PRD, pada 8 Juni 1998.

Adanya siksaan dan jumlah korban selamat menjadi pembeda antara kasus Stockholm dan penculikan aktivis 1997/1998. Namun, mengapa Sindrom Stockholm seolah mempunyai efek sama pada mantan aktivis korban penculikan? Tidak semua aktivis memang. Tetapi, ah rasanya Sindrom Stockholm kali ini lebih ke persoalan politis, ketimbang psikologis.

[did]
Iklan