Tag

, ,

DESMON MAHESA BERTEMU PARA AKTIVIS YANG DICULIK

JAKARTA (SiaR, 12/5/98), Satu demi satu aktivis yang diculik angkat bicara memberikan kesaksian. Setelah Sekjen Aldera Pius Lustrilanang dan Wakil Sekjen PDI Perjuangan Haryanto Taslam, maka Selasa (12/5) ini giliran Ketua LBH Nusantara Jakarta, Desmon J Mahesa memberi kesaksiannya di Gedung Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI). Tabir penculikan mulai terkuak, karena Desmon mengaku, bahwa ketika dirinya dipenjara para penculik, ia bertemu dengan para aktivis yang selama ini dinyatakan hilang.

Desmon mengaku diculik oleh kelompok terorganisir, dan mengalami penyiksaan fisik selama diculik. Desmon yang sempat diculik selama dua setengah bulan, dan baru dilepas 3 April 1998 lalu itu, menegaskan bahwa dirinya diculik oleh para penculik yang yang bersenjatakan pistol FN (senjata standar ABRI, red.)

“Saya dibawa berputar-putar selama sekitar 40 atau 50 menit menggunakan mobil Vitara abu-abu sebelum tiba di sebuah kantor yang cukup ramai. Saya dibawa ke sebuah ruangan dengan menuruni tangga, kemudian dimasukkan ke dalam bak,” ucapnya.

Menjawab pertanyaan puluhan wartawan dalam dan luar negeri, Desmon yang didampingi koordinator Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Kekerasan (KONTRAS) Munir SH, serta anggota Komnas HAM Albert Hasibuan SH, menegaskan ia telah bertemu dengan para aktivis yang selama ini dinyatakan hilang seperti Pius Lustrilanang, Haryanto Taslam, Yani Avri dan Sonny (keduanya aktivis PDI Perjuangan pro-Megawati Soekarnoputri), Herman Hendrawan, Faisal Reza, dan Waluyo Jati (ketiganya aktivis Partai Rakyat Demokratik/PRD).

Ia mengaku tidak bertemu dengan Ketua Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID) Andi Arief yang tiba di markas penculik belakangan, sebelum kemudian “dioper” para penculik ke Mabes Polri.

Dalam keterangannya menjawab pertanyaan para wartawan, Desmon tidak menolak testimoni Pius yang dikonfrontir terhadap dirinya. Ia membenarkan tentang ciri-ciri fisik dari lokasi tempat para aktivis diculik. Juga tentang cara-cara dari metode penculikan dan pemeriksaan yang dilakukan para penculik terhadap para aktivis. Desmon juga tak membantah tentang ancaman yang diterimanya dari para penculik seperti juga yang diterima Pius sebelum dirinya dilepaskan para penculik. Seperti Pius, Desmon juga didanai ongkos pesawat untuk pulang ke kota kelahirannya, Banjarmasin.

Desmon mengutarakan, bahwa setelah dirinya “dilepas” para penculik, hingga kini ia dan keluarganya di Banjarmasin merasa selalu diteror oleh orang-orang tak dikenal. “Kadang-kadang ada orang tak dikenal bertanya ke tetangga tentang diri saya,” ujarnya.

Sementara itu, anggota Komnas HAM Albert Hasibuan menegaskan, bahwa keterangan Desmon memperkuat keterangan yang telah diberikan Pius sebelumnya di Komnas HAM. Ia meyakini, bahwa berdasarkan keterangan Desmon, telah terjadi suatu pelanggaran HAM terhadap diri Desmon. Menurutnya, Desmon tidak perlu mendatangi Komnas HAM, karena telah memberi keterangan di YLBHI.

Albert Hasibuan meminta agar tim kecil yang dibentuk ABRI segera menyelesaikan kasus oarng hilang ini hingga tuntas. “Kalau ini bisa dilakukan tim tersebut, maka tidak perlu ada tim-tim lainnya yang dibentuk LSM atau anggota masyarakat lain,” katanya.

Sedangkan Munir mengumumkan catatan Kontras tentang orang hilang, yang menyebutkan hingga kini masih terdapat tujuh orang aktivis yang dinyatakan hilang. “Setelah dikonform ke berbagai pihak, termasuk keluarga, masih ada tujuh orang aktivis yang dinyatakan hilang dan belum kembali ke keluarganya,” katanya.

Ketujuh aktivis tersebut adalah Herman Hendrawan (KNPD/mahasiswa Unair), Yani Avri atau Rian (PDI Perjuangan), Sonny (PDI Perjuangan), Bimo Petrus Anugerah (mahasiswa STF Driyarkara), Suyat (mahasiswa UNS Solo), Noval, dan seorang aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) asal Garut yang tidak ingin disebutkan namanya oleh pihak keluarga.

“Aktivis PMII ini hilang sejak pertengahan Pebruari 1998 lalu,” ucap Munir.***

Sumber: http://www.library.ohiou.edu/indopubs/1998/05/12/0001.html

Iklan