Tag

, , ,

Banjarmasin Post, 21 April 1998
Desmond J Mahesa Buka Mulut, Tapi Off The Record
* “Saya Benar-benar Masih Trauma”

BANJARMASIN – Desmond J Mahesa, Direktur Utama Lembaga Bantuan Hukum Nusantara (LBHN) Jakarta yang ‘hilang’ selama dua bulan mengaku masih trauma dan tidak ingin menceritakan pengalamannya secara meluas apalagi dipublikasikan.

“Saya benar-benar trauma atas peristiwa itu apalagi untuk datang ke Jakarta saat sekarang ini,” kata Alumnus Fakultas Hukum Unlam ini kepada BPost di sebuah rumah kawasan Haryono MT Banjarmasin, semalam.

Desmond pun bercerita seputar pengalamannya selama menghilang dua bulan namun dia meminta untuk tidak dimasukkan koran, “Ini benar-benar off the record,” lanjut pria bertubuh gemuk, berkacamata minus ini.

Desmond dinyatakan hilang oleh kalangan aktivis di Jakarta sejak tanggal 3 Februari 1998. Kesaksian teman-temannya menyebutkan, Desmond diculik sekelompok orang tidak dikenal saat turun dari bus di depan RS St Carolus, Salemba Jakarta dan dibawa ke suatu tempat yang dirahasiakan. Pencarian Desmond terus dilakukan dengan melaporkannya kepada Polda Metro Jaya, Kodam Jaya, Komnas HAM dan dimasukkan dalam daftar pencarian orang hilang oleh Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras).

Deretan aktivis yang dinyatakan hilang selain Desmond adalah Andi Arief (Ketua SMID-Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi, organisasi mahasiswa di bawah PRD-Partai Rakyat Demokratik), Pius Lustrilanang (Ketua Umum Aliansi Demokrasi Rakyat-Aldera, Sekjen SIAGA), Haryanto Taslam (Wasekjen DPP PDI Megawati), Herman Hendrawan (Ketua Pusat Perjuangan Buruh Indonesia Jatim, lembaga di bawah PRD), Faisol Reza (aktivis SMID), Nezar Patria, Mugianto dan Aan Rusdianto (aktivis PRD). Tiga nama pertama dinyatakan sudah kembali, sementara tiga nama terakhir diakui ditangkap aparat di Klender Jakarta berikut sejumlah dokumen sebagai barang bukti.

Desmond yang memiliki nama asli Junaidi, kembali ke Banjarmasin Jumat (3 Apr) dan langsung melaporkan dirinya ke Polresta Banjarmasin.

“Saya ingin menenangkan diri dulu, kalau ada yang menawari bekerja saya bersedia, di perusahaan atau apa saja. Jadi wartawan pun saya mau,” lanjut Desmond yang juga salah seorang direktur Perhimpunan Bantuan Hukum dan HAM Indonesia (PBHI)

Menurut Desmond, untuk sementara dia akan menetap di Banjarmasin, membantu ibunya yang masih hidup Ny Sa’diah. “Saya ingin kumpul keluarga, sekaligus membantu ibu. Sudah lama saya berpisah dengan beliau,” katanya soal ibunya yang tinggal di Jalan Manggis, RT 18 Kelurahan Kebun Bunga Banjar Timur.

Desmond membantah akan berangkat ke Singapura untuk melanjutkan studi hukumnya atas tawaran Laksamana Sukardi dan Rizal Ramli dari Econit Advisory. “Ngarang itu, saya tidak pernah dapat tawaran itu,” kata Desmond. Dia memang ingin sekali melanjutkan sekolah ke tingkat strata 2 (S2), namun terbentur masalah biaya. “Kalau kamu lihat rumah saya, pasti berkesimpulan, itu [ke Singapura] tidak mungkin.”

Selalu aktif

Desmond J Mahesa sejak kuliah sudah aktif dalam sejumlah organisasi. Dia aktif di Sema Fakultas Hukum, SMPT Unlam, Kelompok Studi Hukum dan Lingkungan, Kelompok Studi Islam dan aktif di HMI Kalsel. Dia juga pernah menjadi Ketua Badko Fokusmaker Kalsel dan pernah bergabung dalam Pro LH GTZ.

Sejak kembali ke Banjarmasin alumnus Fakultas Hukum Unlam tersebut selalu menghindar dari kejaran wartawan yang ingin mendengar ceritanya. Menurut Desmond, itu dilakukannya karena takut terjadi fitnah. Desmond sendiri tidak menjelaskan atas alasan apa dia diculik sekelompok orang.

Pemerintah bertahan

Menjawab pandangan terhadap maraknya aksi mahasiswa, Desmond J Mahesa menyatakan bahwa pemerintah selalu bersifat bertahan dalam menghadapi keinginan masyarakat. Akibat posisi itulah, katanya, tuntutan masyarakat masih belum bisa dipertemukan.

“Aksi-aksi mahasiswa belakangan ini merupakan bukti belum bertemunya dua hal itu. Di satu sisi, mahasiswa menuntut sesuatu yang sebenarnya sudah menjadi masalah bangsa ini sejak lama, sementara perubahan yang diinginkan masih belum berlangsung,” tuturnya.

Menurut Desmond, aksi mahasiswa merupakan aktualisasi tuntutan para mahasiswa itu sudah seperti bola salju, bergulir cepat dan membesar. Hal tersebut bertambah parah dengan situasi saat ini, yang membuat tuntutan makin terakumulasi.

Karena itu, menurut Desmond, reformasi yang dituntut itu tidak akan pernah berhasil selama pemerintah masih dalam posisi bertahan. “Keadaan justru bisa berbalik jauh ke belakang seperti saat tuntutan reformasi belum disampaikan.”

Desmond menganggap reformasi secara gradual masih belum terjadi dalam berbagai sektor. Dalam HAM (hak asasi manusia) misalnya, menurut Desmond, masih sangat sulit dipertemukan. Karena pemeritah masih belum ingin mengakui HAM secara total, padahal kondisi bangsa ke depan mengharuskan demikian.

“Kita tidak bicara Indonesia dalam ruang yang sempit. Karena di masa depan HAM ini sudah menjadi bagian kehidupan masyarakat dunia. Pemerintah hanya menghubungkan HAM dengan kondisi lokal.”

Dalam kehidupan hukum, Desmond menilai, masih banyak keanehan yang terjadi. Terutama yang berhubungan dengan pemberlakuan sebuah perundang-undangan. Masyarakat hanya menjadi penerima saat undang-undang berlaku.

Seharusnya, menurut Desmond, dilakukan semacam referendum untuk mengetahui pendapat masyarakat mengenai undang-undang yang mengatur kehidupannya.

Mengenai reformasi politik yang ramai dituntut para mahasiswa, Desmond J Mahesa menilai ada tiga hal yang harus menjadi perhatian. Kepartaian, ketatanegaraan dan pelayanan publik. Berbicara mengenai kepartaian, itu berarti perlu perubahan undang-undang politik. “Untuk ketatanegaraan, itu berarti menyangkut lembaga kepresidenan. Sementara untuk pelayanan publik, menyangkut bagaimana kedaulatan rakyat ditegakkan,” kata pria lajang ini. bud/don

Sumber: http://www.indomedia.com/bpost/9804/21/DEPAN/depan5.htm

Iklan