Tag

, , ,

Xpos, No 17/I/25 April – 1 Mei 98
Desmond Sudah Bicara

(POLITIK): Salah satu bekas orang hilang sudah buka mulut. Ia diculik dan disekap.

Desmond Junaidi Mahesa (33) sudah bercerita, mulai menyingkap tabir dua bulan hilang. Ia mengaku diculik sekawanan orang berbadan kekar dan disekap dalam sebuah bangunan. Dalam penyekapan ia diinterogasi perihal masalah aktifitasnya selama ini. Juga dikait-kaitkan dengan aktifitas politik pro-demokrasi belakangan.

Ia mengaku diculik di sekitar kantor GMKI Jl Salemba tanggal 3 Februari sekitar pukul 07.30 WIB. Ketika sedang berjalan tiba-tiba sekelompok orang menyergapnya, kepala Desmond ditutup kain hitam dan tangannya diborgol.

Setelah dimasukkan ke dalam mobil, musik dalam mobil itu dihidupkan keras-keras. Sekitar empat-lima jam berputar-putar, kemudian ia telah berada di sebuah bangunan yang lengang. Di situlah ia diinterogasi setiap malam hari dengan mata tetap tertutup selama dua bulan, sebelum ia tiba-tiba sampai ke Bandara Soekarno-Hatta dengan mengantongi tiket pesawat ke Banjarmasin atas nama Fahmi pada tanggal 3 April 1998.

Cerita Desmond pun mirip-mirip dengan Pius Lustrilanang, Sekjen Aliansi Demokrasi Rakyat (Aldera) yang diceritakan oleh teman-temannya. Ia disergap segerombolan orang di RS Cipto Mangun Kusumo pertengahan Februari, sehabis membesuk orang tua Hendrik yang dirawat di rumah sakit itu. Ia ditutup matanya lalu dimasukkan ke dalam mobil. Beberapa jam kemudian ia sampai di sebuah ruang tahanan di sebuah bangunan. Di tempat itu ia diinterogasi dengan mata tertutup, selama hampir dua bulan. Tapi entah siapa yang membelikan tiket, tiba-tiba saja ia harus naik pesawat ke Palembang, ke rumah orang tuanya.

Sementara wakil sekjen DPP PDI Perjuangan Haryanto Taslam telah kembali Jumat pekan lalu (17/4). Pagi itu ia menelpon keluarganya yang di Jakarta untuk minta dijemput di sebuah hotel di Jl. Mayjen Sungkono Surabaya. Ia tidak cerita apa-apa kepada wartawan maupun orang lain tentang nasibnya selama ini. Tangan kanan Megawati itu hanya menyatakan aman-aman saja dan berada di Mojokerto, tempat orang tuanya.

“Wis Sampeyan gak usah takon. Aku saiki bebas. Aku nang salah sijine kutho nanggone wilayahmu,” kata Taslam melalui handphone kepada ketua DPD PDI Jatim, Ir Sutjipto pada Jumat sore.

Ketika didesak untuk mengaku diculik oleh siapa dan dimana disekap, Taslam pun tetap membungkam. “Nanti semua akan saya ceritakan kepada Ibu Megawati,” katanya kepada pers.

Kepulangan Taslam belum juga mampu membuka tabir teka-teki kepergiannya selama 35 hari. Walaupun kepada Munir SH dari Komisi Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KONTRAS), Taslam mengaku diculik sejak 8 Maret 1998 pukul 13.30 WIB, ketika keluar dari Hotel Mega Mitra Jakarta.

Jika Desmond, Pius, Taslam dikembalikan ke tempat asalnya, Andi Arif, Ketua Solidaritas Mahasiswa Indonesia Untuk Demokrasi (SMID) diketahui telah diserahkan oleh penculiknya kepada Mabes Polri. Kepastian keberadaan AA, panggilan akrab Andi Arif, dinyatakan Munir bersama tim KONTRAS yang membesuknya di Mabes Polri, Kamis (23/4). Tapi ketika dibesuk Munir, AA tidak banyak bicara.

Lepas dari tuduhan terhadapnya telah melakukan tindak subversif – karena diduga terlibat meledaknya bom di rusun Tanah Tinggi, polisi tetap dituntut tanggungjawabnya terhadap hilangnya AA selama ini. Konon, sebelum diserahkan ke Mabes Polri, AA di bawah sekapan Mabes ABRI. Kalau ini benar, berarti informasi-informasi yang beredar di masyarakat bahwa tentara sangat berperanan dalam hilangnya para aktifis ini terbukti.

Sebuah sumber di Cliangkap mengatakan bahwa kemungkinan mereka disekap di Gunung Putri dekat Bogor. Dan informasi ini agak mirip dengan pengakuan mereka yang pernah diculik. Bahwa ia dibawa mobil melalui jalan tol. Teka-teki ini belum terjawab, kecuali Mabes Polri mengungkap siapa si pembawa Andi Arif.

Kepastian itu pula yang dituntut para rohaniawan yang mendatangi Komnas HAM Rabu (22/4). Selain menyatakan keprihatinan atas kondisi HAM saat ini, mereka juga mendesak agar Komnas HAM “memastikan keberadaan mereka yang ditangkap, dan menjamin keselamatan mereka,” tulis puluhan rohaniawan itu. (*)

Sumber: http://www.library.ohiou.edu/indopubs/1998/04/24/0017.html

Iklan