Tag

,

Banjarmasin Post, 1 Mei 1998
Hasan Aman: “Silakan Desmond Kerja di Sini”
* Pius Berjanji akan Kembali

BANJARMASIN – “Silakan Desmond J Mahesa bekerja di sini, kalau dia ingin membangun bersama rakyat. Kita tidak membedakan warga,” kata Gubernur Kalsel Gusti Hasan Aman usai menghadiri Rapat Paripurna DPRD Tk I, kemarin.

Desmond J Mahesa, salah seorang aktivis yang hilang menyatakan tidak ada niatan untuk kembali ke Jakarta dan berharap mendapat pekerjaan di kampung halamannya, Kalsel. Bukan saja akibat trauma penculikan dan ketakutan atas ketiadaan jaminan keselamatan atas dirinya, tapi karena keinginannya berkumpul bersama keluarga.

Direktur Lembaga Bantuan Hukum Nusantara (LBHN) cabang Jakarta yang secara resmi membeberkan apa yang dialaminya selama hilang dua bulan kepada BPost Rabu [29 Apr] mengakui telah diculik tanggal 3 Februari 1998 di kantor GMKI Salemba Jakarta. Selama penyekapan Alumnus Fakultas Hukum Universitas Lambung Mangkurat (Unlam) 1992 ini diinterogasi, disetrum dan disuruh tidur di atas balok es sebelum dilepas tanggal 4 April di Bandara Soekarno-Hatta untuk diterbangkan ke Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin.

Ketika ditanya apa Desmond J Mahesa dapat menjadi pegawai negeri sipil? Gusti Hasan Aman yang mengaku baru mengetahui Desmond orang Banjarmasin menegaskan, pihaknya tidak keberatan asalkan memenuhi persyaratan.

Selama tidak ada keputusan dari pengadilan bahwa dia bersalah, menurut gubernur, berarti dia mempunyai hak yang sama dengan warga lainnya untuk memperoleh pekerjaan.

Hasan Aman menghendaki seluruh masyarakat –termasuk Desmond J Mahesa– turut serta mengatasi krisis yang terjadi sekarang ini. “Mari kita sama-sama berkonsentrasi agar dapat keluar dari krisis sekarang ini,” pintanya.

Ketika ditanya apa ada maksud mengadopsi Desmond J Mahesa, Gusti Hasan Aman hanya menyatakan orang seperti Desmond di daerah ini cukup banyak. “Kalau Desmond saya adopsi, yang lain juga harus diadopsi,” ujarnya.

Etalase

Sementara itu mengenai penculikan, penyekapan dan penyiksaan terhadap beberapa aktivis, Desmond menganggap, itu mungkin saja dijadikan oleh pihak-pihak tertentu guna membungkam orang dan menjadikannya semacam etalase percontohan bagi aktvivis yang lain, sehingga mereka tidak lagi berani menyampaikan kebenaran.

“Itu adalah tindakan yang kurang tepat. Karena apapun ancaman terhadap orang, tidak bisa dengan bentuk ancaman. Bisa dengan jalan lain. Kalau untuk peredaman itu sia-sia, semua aktivis sudah memikirkan resiko yang akan mereka terima. Bukankan mati, penjara dan juga jodoh di tangan Tuhan?” tanya Desmond.

Menurut dia, secara lebih luas apa yang dilakukan terhadap para aktivis itu justru akan merugikan dan membuat pandangan internasional terhadap pelaksanaan HAM di Indonesia menjadi kurang bagus. “Seharusnya bisa menggunakan ancaman pidana yang sudah ada.”

Ditanya apakah penculikan terhadap beberapa aktivis itu karena dinilai mereka memiliki ‘kualitas’ yang lebih dibandingkan dengan aktivis yang lain, Desmond menolak anggapan itu.

Semua aktivis, menurutnya, ada bidang masing-masing. Tinggal para aktivis itu ada ruang untuk dipidana atau tidak.

“Kalau misalnya Ratna Sarumpaet ditangkap, itu kan karena dia terlalu maju dan tidak menyadari bisa menyeretnya ke penjara. Itu kan proses kesadaran,” katanya.

Dan apa yang dilakukan dirinya, menurut Desmond, adalah tidak lebih dari amar ma’ruf nahi munkar, mencegah kebatilan. Karena itu, kalau yang menyangkut pidana dia tidak akan ngomong, karena mengerti soal itu. “Saya hanya menyampaikan apa yang ada di masyarakat tanpa perlu melanggar hukum.”

Lebih suka soal daerah

Gubernur Kalsel H Gusti Hasan Aman kembali menegaskan keinginannya untuk berdialog dengan para mahasiswa daerah ini mengenai berbagai hal. Namun dia lebih suka berdialog mengenai persoalan yang berhubungan langsung dengan daerah.

“Dalam dialog itu masalah apa dulu yang dibicarakan. Apa yang didialogkan. Akan lebih baik dan bermanfaat kalau yang didialogkan itu yang berhubungan langsung dengan daerah. Kalau yang dibicararakan itu soal reformasi politik itu masalah nasional. Masalah pemerintah pusat,” katanya usai memimpin upacara peringatan hari otonomi daerah, Rabu.

Gubernur menganggap akan sia-sia dialog yang dilakukan kalau persoalannya tidak jelas. Sementara itu, menanggapi keinginan gubernur, Drs Setia Budhi MS, salah seorang dosen Unlam, menyatakan seharusnya ada semacam dialog pendahuluan dulu antara mahasiswa-gubernur mengenai materi apa yang akan didialogkan, sehingga semua bisa berjalan lancar.

Pada umumnya, menurut Budhi, mahasiswa menginginkan dialog tidak hanya soal daerah tapi juga menyangkut persoalan mendasar lainnya.

Pius akan kembali

Pius Lustrilanang, Sekjen Aliansi Demokrasi untuk Rakyat (Aldera), salah korban penculikan yang kini berada di Belanda, mengatakan, ia akan kembali ke Indonesia secepatnya setelah ada kepastian jaminan keamanan dari Menhankam/Pangab Jenderal Wiranto.

Menjawab pertanyaan kapan kembali ke Indonesia, Pius sebagaimana dikutip Suara Pembaruan [Kamis, 30 Apr] mengatakan, “Saya berencana kembali ke Indonesia secepatnya setelah ada kepastian dari Pangab yang menjamin keamanan dan penyelesaian kasus penculikan secara hukum dan menindak mereka yang bertanggung jawab atas kejadian ini.”

Sekretaris Siaga (Solidaritas Indonesia untuk Amien dan Mega), yang pulang ke rumahnya di Palembang awal bulan ini setelah diculik orang-orang tak dikenal 28 Maret lalu, mendesak Pemerintah Indonesia, khususnya ABRI, agar melakukan tindakan nyata untuk mencari dan melindungi orang yang masih hilang dan yang sudah kembali (saksi).

Ia juga mengharapkan pemerintah/ABRI dan masyarakat Indonesia, agar melindungi para saksi, terutama yang sudah bebas seperti Desmond J Mahesa, Haryanto Taslam, Andi Arief dan lain-lain.

Pius mengatakan, hal tersebut penting karena menurutnya instansi yang berada di belakang penculikan ini sangat profesional. “Dari pengalaman penahanan dan penyekapan yang saya alami mereka itu benar-benar profesional, luar biasa dan dahsyat,” kata Pius Rabu malam di Amsterdam. Pius mengatakan hal ini ketika ditanya mengapa ia meninggalkan Indonesia.

“Saya memutuskan meninggalkan Indonesia setelah bertemu dengan Komnas HAM yang ternyata hanya dapat menjamin secara moral dan politik, namun tidak secara fisik. Sebelum ada jaminan dari Pangab, saya merasa secara fisik tidak aman. Lebih baik berada dulu di luar Indonesia,” tambahnya.

Menjawab tentang anggapan sementara pihak bahwa Pius melarikan diri, ia mengatakan, “Kalau melarikan diri, mengapa saya harus mengadakan konferensi pers di Komnas HAM.”

Pius membantah isu bahwa Amerika Serikat berada di belakang keberangkatannya ke Belanda. “Teman-teman dekat saya yang membantu mengurus berbagai keperluan sehingga saya bisa berangkat ke Belanda,” kata Pius.

Menurut aktivis ini, ketika menuju Bandara Soekarno-Hatta ia diantar oleh beberapa orang. Sedangkan perjalanannya dari Jakarta ke Belanda didampingi satu orang. Siapa orangnya? Menurutnya seorang teman. “Surat-surat diatur oleh teman-teman saya dan yang jelas bukan diatur oleh Kedubes AS seperti yang diisukan,” tambah Pius.

“Saya sudah lega dan merasa aman di sini,” katanya sebagaimana dikutip Jawa Pos dan Surya saat dihubungi lewat telepon internasional, Rabu malam.

Pius menceritakan, begitu tiba di Amsterdam, ia sudah disambut teman-temannya sesama aktivis yang kini tinggal di negeri kincir tersebut. Antara lain Yenny Rosa Damayanti, aktivis wanita yang sejak beberapa tahun lalu tinggal di negeri itu.

“Yenny dan beberapa teman lama saya menjemput ke Bandara Schiphol,” ujarnya. Pius mengaku memang memiliki banyak teman aktivis di Belanda, karena itulah ia memilih negeri tersebut sebagai tempat tinggal, setelah merasa tidak aman di negerinya sendiri.

Begitu tiba di Amsterdam, Pius diboyong ke rumah seorang warga Indonesia. Di depan Apartemen tempat Pius menumpang sudah dipenuhi puluhan wartawan media cetak dan elektronik.

Hari itu juga Pius diserbu berbagai pertanyaan dan kisah hidupnya selama 48 hari di tangan penculik. Menurut Pius sambutan pers setempat luar biasa. Dua koran setempat Trouw dan Volksrant memuat wawancaranya besar-besaran. Menurut rencana kemarin Pius akan tampil dalam pertemuan LSM di Bonn, Jerman. Setelah mengadakan pertemuan dengan para tokoh di Belanda, Pius akan keliling ke Jerman, Prancis, Irlandia dan AS. Hingga Rabu malam, Pius telah diwawancarai media massa seperti Radio Nederland Hilversum, BBC London, Televisi SBS, Radio Jerman Deutsche Welle dan TV Belanda Netweg. */bud/don

Sumber: http://www.indomedia.com/bpost/9805/1/DEPAN/depan2.htm

Iklan