Tag

,

TEMPO Interaktif, Edisi 11/03 -16/Mei/1998

Kasus Orang Hilang

Orang hilang cacatan buruk perlindungan hak asasi manusia di Indonesia. Belasan orang “diambil”, lalu sebagian dikembalikan ke tempatnya masing-masing maupun ke tahanan polisi seperti dialami oleh Andi Arief, Ketua Solidaritas Mahasiswa untuk Demokrasi.

Beberapa di antaranya, setelah dikeluarkan, memberi kesaksiannya secara terbuka, seperti dilakukan Pius Lustrilanang, Sekjen Aliansi Demokrasi Rakyat, di Komnas HAM. Juga Andi Arief, yang dipulangkan ke tahanan Polda, yang memberikan kesaksiannya kepada keluarga dan pengacaranya dari YLBHI. Serta terakhir Desmond J. Mahesa yang mengungkapkan kesaksiannya di YLBHI Selasa (12/5) lalu.

Beda dengan Andi dan Desmond, Pius Lustrilanang setelah memberi kesaksian di Komnas, langsung bertolak ke Belanda. Itu dilakukan karena Pius merasa jiwanya terancam. Ketika hendak dilepaskan, ia diberi ancaman agar tidak buka mulut. Lalu ia diminta menceritakan kepada orang-orang bahwa ia sembunyi. Bukan diculik.

Bagaimana pendapat responden jajak pendapat TEMPO Interaktif terhadap kasus penculikan ini? Lebih 93 persen responden menyatakan setuju bahwa kasus hilangnya para aktivis lembaga swadaya masyarakat dan aktivis mahasiswa menunjukkan pemakaian “kekerasan” masih dominan dalam penyelesaian soal-soal politik.

Tampaknya, responden sepakat bahwa hilangnya para aktivis itu tidak terlepas dari aktivitas mereka yang bersentuhan langsung dengan masalah sosial-politik. Dan itu bisa dilihat pula dari pertanyaan-pertanyaan para penculik, seperti diungkapkan oleh mereka yang telah memberi kesaksian.

Lalu siapa yang harus bertanggung jawab dalam soal ini. Yang jelas, mayoritas responden setuju bahwa ABRI sebagai penanggung jawab keamanan di Indonesia harus bertanggung jawab terhadap hilangnya sejumlah aktivis itu.

Pertanyaan kami selanjutnya: beberapa orang yang hilang, setelah kembali memilih bungkam. Mereka enggan mengungkapkan ke mana mereka hilang. Bahkan Pius Lustrilanang yang bersaksi telah diculik dan disiksa, setelah memberi keterangan langsung bertolak ke Belanda. Menurut Anda apakah mereka disiksa dan mendapat ancaman? Jawabnya: suara terbanyak responden menjawab ya.

Apa artinya? Perginya Pius ke Belanda menunjukkan bahwa tak ada jaminan di Indonesia untuk aktivis yang berani buka mulut setelah diculik. Hampir 97 persen setuju dengan pernyataan kami itu.

Responden tampaknya tahu benar bahwa tidak ada yang memberikan jaminan keamanan tertulis kepada Pius. Jaminan lisan terkadang sulit untuk dipegang.

Yang mengagetkan, penanganan terhadap kasus ini pun terkesan lamban. Ini terbukti dengan pernyataan kami: sejauh ini belum kelihatan usaha serius pemerintah, DPR, atau ABRI, termasuk polisi untuk mengusut kasus orang hilang ini. Tindakan yang dilakukan baru sebatas membuat pernyatan. Sebagian responden setuju dengan pernyataan itu.

Sebenarnya, kalau pemerintah serius, tidak terlalu sulit untuk mengungkapkan kasus ini. Seperti dikatakan Kordinator Kontras, sebuah komisi untuk mengumpulkan informasi tentang orang hilang, Munir SH, lacak saja siapa yang menyerahkan Andi Arief ke kepolisian.

Karena itu, tak heran kalau kasus ini lebih keras terdengar di forum internasional. Citra negeri ini pun makin terpuruk. Itu membuktikan bahwa penerapan hukum tidak berdaya dalam kasus ini. Lihat jawaban responden terhadap pernyataan: munculnya masalah orang hilang di Indonesia di berbagai forum internasional menunjukkan bahwa sistem hukum Indonesia tidak “berdaya” menghadapi kasus ini. Hampir 94 persen responden menyatakan setuju.

Terakhir, pemerintah perlu memperhatikan pendapat agar secepatnya membentuk komisi pencari orang hilang ini dengan melibatkan anggota masyarakat. Lebih 97 persen menyatakan sikap setujunya.

MIS


Tabel Hasil Jajak Pendapat Sementara

1

Kasus hilangnya para aktivis lembaga swadaya masyarakat dan aktivis mahasiswa menunjukkan pemakaian “kekerasan” masih dominan dalam penyelesaikan soal-soal politik.

Setuju

364

93.6%

Tidak Setuju

25

6.4%

2

Terlibat atau tidak terlibat, pihak ABRI sebagai penanggungjawab keamanan di Indonesia harus bertanggungjawab terhadap hilangnya sejumlah aktivis itu.

Setuju

378

97.2%

Tidak Setuju

11

2.8%

3

Beberapa orang yang hilang, setelah kembali memilih bungkam. Mereka enggan mengungkapkan kemana mereka hilang. Bahkan Pius Lustrilanang yang bersaksi telah diculik dan disiksa, setelah memberi keterangan langsung bertolak ke Belanda. Menurut Anda apakah mereka disiksa dan mendapat ancaman?

Ya

383

98.5%

Tidak

6

1.5%

4

Perginya Pius ke Belanda menunjukkan bahwa tak ada jaminan keamanan di Indonesia untuk aktivis yang berani buka mulut setelah diculik.

Setuju

376

96.7%

Tidak setuju

13

3.3%

5

Sejauh ini belum kelihatan usaha serius pemerintah, DPR, atau ABRI, termasuk polisi untuk mengusut kasus orang hilang ini. Tindakan yang dilakukan baru sebatas membuat pernyataan.

Setuju

377

96.9%

Tidak Setuju

12

3.1%

6

Munculnya masalah orang hilang di Indonesia di berbagai forum internasional menunjukkan bahwa sistem hukum Indonesia tidak “berdaya” menghadapi kasus ini.

Setuju

365

93.8%

Tidak Setuju

24

6.2%

7

Pemerintah harus secepatnya membentuk komisi pencari orang hilang ini dengan melibatkan anggota masyarakat.

Setuju

378

97.2%

Tidak Setuju

11

2.8%

Total

389

100%



Tabel Responden Jajak Pendapat Sementara

1

Jenis Kelamin

Laki-laki

322

82.8%

Perempuan

67

17.2%

2

Usia

< 21

34

8.7%

21 – 25

78

20.1%

26 – 30

105

27.0%

31 – 35

71

18.3%

36 – 40

48

12.3%

41 – 45

20

5.1%

46 – 50

17

4.4%

> 50

16

4.1%

3

Pekerjaan utama

Pegawai Negeri

44

11.3%

Anggota ABRI

11

2.8%

Pegawai BUMN

26

6.7%

Pegawai Swasta

122

31.4%

Wiraswasta

34

8.7%

Pensiunan/purnawirawan

3

0.8%

Pelajar/mahasiswa

117

30.1%

Lainnya

32

8.2%

4

Penghasilan sebulan

Kurang dari 500 ribu

97

24.9%

501 ribu – 1 juta

68

17.5%

1-2 juta

59

15.2%

2-3 juta

32

8.2%

3-4 juta

20

5.1%

4-5 juta

25

6.4%

di atas 5 juta

88

22.6%

Total

389

100%


Copyright © PDAT

Sumber: http://www.tempointeractive.com/ang/jajak/980516.htm

Iklan