Tag

, ,

Edisi 08/03 – 25/April/1998
Yang Hilang Sudah “Pulang.” Tapi Misterinya belum Gamblang

Orang-orang yang katanya hilang di Jakarta itu, belakangan muncul di kampung halaman. Ada juga yang hilang di kampung halaman, keberadaannya dimunculkan di Jakarta: Mabes Polri. Toh, masih banyak deretan orang lenyap yang hingga kini masih meninggalkan misteri.


Dulu, ada istilah petrus dan matius. Masing-masing merupakan singkatan penembak misterius dan mati misterius. Yang menjadi matius adalah para gali atau preman, residivis atau yang sejenisnya. Lalu, siapakah penembak misteriusnya? Tak ada pengakuan resmi. Hanya saja, dalam buku biografinya, Presiden Soeharto menyetujui tindakan terhadap matius itu. Kini, sehubungan dengan munculnya trend orang hilang yang begitu misterius, bisa jadi bakal muncul istilah “hilarius” dan “paulus”. Yang satu berarti hilang misterius, yang lainnya: pulang misterius. Sebab memang macam itulah kenyataannya. Desmond J. Mahesa, Direktur LBH Nusantara Jakarta; Pius Lustrilanang, Sekretaris SIAGA (Solidaritas Indonesia untuk Amien Rais & Megawati) dan Aldera (Aliansi Demokrasi Rakyat), dan Haryanto Taslam, Wakil Sekjen DPP PDI Perjuangan Megawati, setelah sempat dikabarkan lenyap tanpa jejak, belakangan mereka muncul di kampung halaman masing-masing. Pius muncul di Palembang. Desmond di Banjarmasin, dan Haryanto Taslam di Surabaya.

Yang unik, selain munculnya orang-orang itu di kampung halaman, mereka juga punya ciri yang sama, yakni sama-sama no comment saat ditanya di manakah selama mereka dikabarkan hilang itu.

Sangat bisa jadi, pulang atau dipulangkan ke kampung sendiri itu untuk memberi kesan bahwa mereka selama ini menghilang secara suka rela. Namanya juga pulang kampung – kenapa mesti pakai pihak lain untuk memulangkan?

Jaminan dari Komnas HAM dan ABRI bahwa mereka yang sudah “pulang” itu keselamatan mereka akan dijaga, toh tetap saja tak ada yang mau buka mulut. Haryanto bahkan ingin melapor lebih dulu pada pimpinannya, Megawati Soekarnoputri. Akan halnya Pius, belum ada kabar berikutnya, kendati pada saat habis “mudik” itu pernah menyatakan bahwa ada kemungkinan para “”hilarius”” itu bakal muka mulut jika ada jaminan keselamatan.

Meski sudah ada jaminan itu, mereka tetap tidak mau ngomong. Padahal sebelumnya Pius Lustrilanang, salah satu aktivis yang hilang dan sudah kembali itu, mengatakan bahwa kemungkinan mereka yang sudah kembali itu akan bicara bila ada jaminan keamanan. Waktu itu, pihaknya belum merasa cukup dengan jaminan keamanan yang diberikan Komnas HAM dan pihak ABRI memang belum mengeluarkan pernyataan jaminan itu.

Siapa yang membuat mereka menjadi “hilarius” sekaligus “paulus” itu? Tidak jelas, atau setidaknya tidak ada yang mengaku. Pihak ABRI yang diam-diam dicurigai, dengan tegas membantah. “Semua mata tertuju pada ABRI. Padahal ABRI tidak tahu menahu dengan hilangnya sejumlah orang ini. Yang paling memberatkan, hilangnya sejumlah warga negara ini dihubungkan dengan aktivitas politik mereka,” kata Kapuspen ABRI Abdul Wahab Mokodongan sebagaimana dikutip Kompas (20/4) lalu.

Kepala Penerangan Kodam Jaya Letkol (Inf) Drs. DJ Nachrowi juga sama dan sebangun: Kodam Jaya tidak pernah memburu aktivis, termasuk yang selama ini berpandangan kritis terhadap pemerintah. “Kami tidak mengenal istilah DPO (Daftar Pencarian Orang). Tidak ada namanya sasaran target,” katanya sebagaimana pula dikutip Kompas (4/4).

Barangkali, yang cukup gamblang dan justru bertolak belakang dibandingkan dengan Pius dan kawan-kawan adalah nasib Andi Arief. Aktivis SMID (Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi) ini jelas-jelas dijemput oleh sosok-sosok kekar dan berambut cepak dari ruko milik kakaknya di Bandarlampung, yang juga kampung halaman Andi. Nah, jika yang lainnya lenyap di Jakarta dan muncul di kampung, Andi malah lenyap di kampung halaman dan belakangan “muncul” di Jakarta. Tepatnya, dia sekarang sedang berada di Mabes Polri. Adalah pihak aparat sendiri yang mengontak keluarga Andi.

Soal “hilarius” memang bukan sekarang saja terjadi. Dalam dasawarsa terakhir, dengan gampang bisa dijumpai daftar korban orang-orang hilang. Di antara yang hilang itu ada yang kaitannya karena yang bersangkutan punya aktivitas dalam politik, ada juga yang tak ada kaitannya dengan itu. Deddy Omar Hamdun, suami artis Eva Arnaz, itu misalnya, dia termasuk yang tak ada kaitannya dengan politik. Dan hingga sekarang, Deddy tak jelas rimbanya.

Sementara yang hilang gara-gara berkaitan dengan perkara politik, antara lain lantaran peristiwa Santa Cruz, Prahara 27 Juli 1996, dan beberapa lagi lainnya. Beberapa lagi lainnya itu, antara lain, berkait dengan sebutan GPK Aceh dan Peristiwa Tanjung Priok 1984.

Di bawah ini beberapa orang yang hilang itu.

Memang soal orang hilang ini masih menjadi teka-teki. Hingga saat ini, masih ada tujuh orang lagi yang belum ketahuan nasibnya. Sementara tujuh orang lainnya ada yang sudah pulang yakni Pius, Desmon, dan Harianto Taslam. Serta di tahanan Polda, Nezar, Aan, dan Mugianto. Serta Andi Arief di Mabes Polri. (Lihat tabel)

Tabel Orang Hilang

No.

Nama

Status

Lokasi dan tanggal Keterangan dinyatakan hilang

1.

Andi Arief Ketua SMID Bandarlampung, 28 Maret 1998
Sejak 17/4 di tahanan Mabes Polri

2.

Herman Hendrawan Mhs. Fisipol Univ. Airlangga Jakarta, 12 Maret 1998
Belum ada kabar

3.

Faisol Riza Mhs. Fak. Filsafat UGM Jakarta, 12 Maret 1998
idem

4.

Rahardjo Waluyo Djati Mhs. Fak Sastra UGM Jakarta, 12 Maret 1998
idem

5.

Nezar Patria Mhs. Fak Filsafat UGM Jakarta, 12 Maret 1998
di tahanan Polda Metro Jaya

6.

Mugianto Mahasiswa Jakarta, 12 Maret 1998
idem

7.

Aan Rusdianto Mahasiswa Jakarta, 4 Februari 1998
idem

8.

Pius Lustrilanang Ketua dan Sekretaris Aldera SIAGA Jakarta, 4 Februari 1998
3 April 1998 sudah kembali ke keluarganya

9.

Desmond J. Mahesa Pengacara (Direktur LBH Nusantara Jakarta) Jakarta, 4 Februari 1998
idem

10.

Haryanto Taslam Pengurus DPP Jakarta Jakarta, 2 Maret 1998
sudah kembali PDI dan melepon keluarganya dari Surabaya tanggal 17/4

11.

Bimo Petrus Mhs.STF Drikarya Jakarta, Minggu III Maret 1998
belum ada kabar

12.

Suyat Mhs. UNS Jakarta, Minggu I Februari 1998
idem

13.

Yani Avri Supir Jakarta 26 April 1997
tidak ada kabar lagi setelah dilepaskan dari tahanan Kodim Jakarta Utara

14.

Sonny Supir Jakarta, 26 April 1997
idem
Sumber: YLBHI, 1998, sudah diolah.

Berbagai keterangan yang belum gamblang itu, jangan tanya di mana dan bagaimana keberadaan mereka. Ini PR pemerintah agar menyelesaikannya.

MIS

Sumber: http://www.tempointeractive.com/ang/min/03/08/nas3.htm

Iklan