Dibutuhkan Kepemimpinan Yang Kuat di Kejaksaan

Tag

, , , ,

Oktober 2010

BARANGKALI untuk pertama kalinya dalam sejarah pemerintahan Indonesia, keabsahan seorang pejabat tinggi setingkat menteri, yaitu Jaksa Agung dipertanyakan dan menjadi kontroversi. Kontroversi ini bermula darigugatan mantan Sekretahs Negara dan mantan Menteri Hukum dan HAM, Yusril Ihza Mahendra, ke Mahkamah Konstitusi. Yusril mengajukan uji materipasal 19 dan 22 Undang-Undang Kejaksaan yang mengatur pengangkatan dan pemberhentian Jaksa Agung.

Dalam putusan yang dibacakan Ketua MK Mahfud MD di Jakarta, Rabu 22 September 2010, MK mengabulkan sebagian permohonan judicial review atas UU Kejaksaan yang diajukan Yusril Ihza Mahendra. Mahfud menyatakan, sejak MK mengetok palu 14.35 WIB, maka Hendarman Supandji tidak dapat menjalankan tugasnya sebagai Jaksa Agung. Kontroversi keabsahan Hendarman ini usai setelah Presiden melantik Darmono sebagai Pelaksana Tugas Jaksa Agung.

Berkaitan dengan kontroversi tersebut dan penegakan hukum secara keseluruhan, Majelis mewawancarai Ahmad Yani, SH, MH, anggota Komisi III DPR RI yang membidangi masalah hukum. Berikut petikan wawancara BudiSucahyo dan fotografer Sugeng dari Majelis dengan politisi dari Fraksi Partai Persatuan Pembangunan (FPPP) yang dilakukan di ruang kerja, Gedung Nusantara I, Kompleks MPR/DPR/DPD, pada Senin 27 September 2010.

 

Bagaimana bapak melihat kontroversi keabsahan Jaksa Agung Hendarman Supandji beberapa waktu lalu, meskipun sudah selesai dengan adanya putusan MK?

Sebenarnya pada waktu rapat kerja Komisi III dengan Jaksa Agung Hendarman Supandji, kita sudah berdiskusi. Beberapa orang, di antaranya saya, Desmond J. Mahesa, Syarifuddin Suding, Bambang Soesatyo, mempersoalkan eksistensi Jaksa Agung. Desmond J. Mahesa bahkan bertanya langsung kepada Jaksa Agung. Dia memperkuat dengan membuat semacam paper yang menyimpulkan penunjukkan Jaksa Agung tidak absah pada waktu itu. Saya memperkuat pernyataan Desmond itu.

Saya ingat betul jawaban Jaksa Agung pada waktu itu bahwa dia sendiri pun sudah merasa bukan sebagai Jaksa Agung lagi. Pak Hendarman sudah memiliki feeling seperti itu. Bahkan dia tidak memakai pin karena tidak ikut bersama dilantik dan tidak ada keputusan Presiden tentang pengangkatannya sebagai bagian dari Kabinet Indonesia Bersatu II.

 

Apa alasan atau argumen yang mendasari bahwa Jaksa Agung tidak absah?

Kita harus memahami bahwa ada dua ketentuan mengenai Jaksa Agung. Pertama, dilihat dari UU Kementerian Negara. Jaksa Agung memang berada di luar. Seharusnya Presiden pada waktu itu memberhentikan Jaksa Agung. Semua menteri Kabinet Indonesia Bersatu I diberhentikan dengan Keputusan Presiden. Kita tahu, Jaksa Agung setingkat menteri dan Hendarman menggantikan Abdurrahman Saleh pada Kabinet Indonesia Bersatu I. Seharusnya, masa jabatan Hendarman berakhir juga pada saat berakhirnya masa Kabinet Indonesia Bersatu I. Kemudian Presiden mengangkat kembali dengan Keppres. Khusus untuk Jaksa Agung ini tidak ada pemberhentian dan pelantikan serta pengangkatan kembali dengan Keppres. Kedua, kalau merujuk pada UU Kejaksaan, maka Jaksa Agung berdasarkan usia. Dilihat dari segi usia pun, usia Hendarman sebagai Jaksa Agung sudah melewati ketentuan.

 

Mengapa ketika sudah dikemukakan kepada Jaksa Agung Hendarman Supandji, tidak ada tindak lanjutnya?

Isu itu tidak berlanjut setelah mendengar jawaban Jaksa Agung Hendarman seperti itu. Media massa juga tidak tertarik memberitakan hal itu. Pada waktu itu tidak banyak yang membicarakan keabsahan Jaksa Agung, apalagi banyak isu-isu lain yang baru. Isu ini baru ramai setelah Yusril Ihza Mahendra mempersoalkan keabsahan Jaksa Agung Hendarman Supandji. Setelah ditetapkan sebagai tersangka kasus Sisminbakum, Yusril tidak mau diperiksa karena menganggap Jaksa Agung ilegal atau tidaksah. Karena itu, dia mengajukan gugatan ke Mahkamah Konstitusi.

Wawancara lengkap bisa dibaca di: Majalah MAJELIS : EDISI NO.10/TH.IV/OKTOBER-2010 HAL. 52-57.

Sumber: http://www.sahabatahmadyani.com/index.php/artikel/wawancara/89-dibutuhkan-kepemlmpinan-yang-kuat-di-kejaksaan.html